Minggu, 04 Oktober 2009

Uji t dan Uji r dalam Validitas

Penggunaan Uji t dan Uji r dalam Validitas
Oleh: Suharto



A. Pendahuluan
Menyusul penggunaan statistik parametrik sebagai alat analisis yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menyusun tugas akhir dalam memperlakukan data interval dan ratio, belakangan ini relatif ramai dibicarakan tentang penggunaan statistik non parametrik sebagai salah satu alternatif alat analisis dalam penelitian. Statistik parametrik, selain memerlukan persyaratan khusus, yakni data yang digunakan harus memenuhi kriteria paling tidak mendekati sebaran normal, akan tetapi lazim digunakan jika data yang dianalisis adalah data yang memiliki skala minimal interval dan atau ratio serta memerlukan perhitungan-perhitungan yang relatif rumit, dibandingkan dengan statistik non parametrik yang hanya memerlukan perhitungan sederhana.

Secara teori, statistik parametrik memiliki kajian numerik yang lebih kuat dibandingkan dengan statistik non parametrik. Statistik parametrik memiliki kemampuan generalisasi yang lebih tinggi ketika data yang digunakan memiliki paling tidak mendekati sebaran normal. Selain itu, statistik parametrik juga memiliki kemampuan memberikan kesimpulan secara numerik lebih baik jika dibandingkan dengan kemampuan statistik non parametrik. Akan tetapi bila data yang digunakan tidak memiliki sebaran normal, atau kurang memenuhi syarat minimal dalam distribusi normal, statistik non parametrik menjadi pilihan dan lazim digunakan meskipun data yang dianalisis kurang memberikan hasil yang diharapkan dalam kajian penelitian.

Statistik non parametrik, disatu pihak hanya digunakan untuk mengukur distribusi. Selain itu, dalam statistik non parametrik, langkah-langkah penyelesaiannya hanya memerlukan perhitungan-perhitungan yang relatif sederhana. Penggunaan statistik non parametrik dalam penelitian mahasiswa juga lebih banyak menggunakan instrumen penelitian dengan skala pengukuran tertentu, seperti misalnya instrumen atau alat ukur untuk menghasilkan data dengan skala nominal dan ordinal yang diperoleh dari sampel. Meskipun dalam perkembangannya, instrumen yang digunakan untuk memperoleh data itu digunakan juga dalam analisis statistik parametrik setelah mengalami beberapa perlakuan.

B. Pembahasan
Kajian tentang penggunaan instrumen sebagai alat ukur, tentu saja memerlukan kecermatan dan ketelitian dalam pembuatannya. Karena dari instrumen itu, responden akan memberikan jawaban kepada kita tentang data-data yang diperlukan dalam penelitian. Data yang baik, hanya akan diperoleh dengan instrumen atau alat ukur yang baik. Data yang valid, hanya akan diperoleh bila data yang diperoleh memiliki validitas. Sedangkan data yang reliabel hanya bisa diperoleh bila instrumen yang kita gunakan untuk memperoleh respon dari sampel itu memiliki reliabilitas. Karena reliabilitas dan validitas, hanya akan diberikan oleh intrumen yang valid dan reliabel. Uji validitas lazim digunakan untuk menguji butir-butir dalam instrumen, sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi intrumen dalam penelitian setelah masing-masing melalui mekanisme uji konsep.

Untuk memperoleh instrumen yang valid dan reliabel itu, diantaranya adalah dengan melalui mekanisme pengujian secara statistik dengan benar. Validitas statistik dilakukan bila secara teori instrumen penelitian itu sudah melalui mekanisme pengujian validitas konsep, yakni validitas yang dibuat dan dipertimbangkan oleh para ahli dibidangnya. Selain validitas konsep yang sudah didiskusikan dan di analisis oleh pertimbangan para pakar itu, analisis statistik kemudian digunakan untuk menguji instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dengan ukuran skala ordinal. Misalnya saja skala sikap Likert. Akan tetapi bila instrumen yang digunakan bertujuan untuk memperoleh data dengan skala nominal, misalnya saja data tentang profesi pekerjaan seseorang, jenis kelamin dan lain-lainnya yang termasuk dalam data dengan skala ukuran nominal, yakni KTP untuk menanyakan jenis kelamin seseorang, dan Kartu Pegawai/Identitas untuk menanyakan identitas atau profesi seseorang, maka pengujian instrumen dengan menggunakan uji statistik tidak lazim digunakan. KTP dan Kartu Pegawai untuk menanyakan jenis kelamin dan pekerjaan atau profesi seseorang, sudah merupakan instrumen yang valid dan reliabel. Istrumen ini walaupun hanya secara konsep sudah memiliki validitas dan reliabilitas akan tetapi secara statistik tidak perlu dilakukan melalui mekanisme pengujian secara statistik. Beberapa alasan tentang perlu tidaknya pengujian secara statistik terhadap instrumen yang akan digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian akan dibahas secara sederhana dalam tulisan ini.

Alasan pertama adalah peluang terjadinya kesalahan yang disebabkan oleh satu peubah bebas X, yakni kesalahan yang terjadi karena instrumen yang tidak valid dan reliabel. Instrumen tidak memberikan informasi yang benar bagi responden sehingga akan menimbulkan keraguan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Instrumen yang tidak valid akan memberi peluang responden menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak dijawab, atau tidak menjawab pertanyaan yang seharusnya dijawab.

Sedangkan alasan kedua adalah kesalahan yang terjadi dalam diri responden. Instrumen sudah baik, valid dan reliabel. Akan tetapi jawaban yang diberikan oleh responden merupakan jawaban yang asal jadi, asal menjawab, dan bahkan secara sengaja tidak bersedia memberikan jawaban apa yang seharusnya di jawab. Akan tetapi asumsi yang harus dipenuhi dalam penyebaran angket adalah berpegang terhadap kepercayaan atas jawaban responden. Kita harus percaya sepenuhnya terhadap jawaban yang diberikan oleh responden. Menurut Sambas (2006), terdapat dua pendapat tentang perlu tidaknya penggunaan uji t dalam uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan statistika.

Pendapat pertama menyebutkan bahwa untuk menguji validitas dan reliabilitas tidak perlu menggunakan uji t, akan tetapi cukup dengan menghitung nilai r, kemudian nilai r yang sudah diperoleh itu dibandingkan dengan nilai tabel r dengan tujuan untuk mengetahui valid atau tidaknya instrumen yang sudah dibuat.

Sementara pendapat kedua menyebutkan, setelah menghitung nilai r, harus dilanjutkan dengan uji t. Setelah kita memperoleh nilai t hitung, kemudian membandingkannya dengan nilai t tabel untuk mengetahui valid atau tidaknya instrumen. Dalam pengujian instrumen ini tentu saja kita menggunakan hipotesis, yakni pernyataan yang mengatakan bahwa bila t hitung > dari t tabel, berarti intrumen itu bisa digunakan. Akan tetapi bila nilai t hitung yang kita peroleh itu lebih kecil atau sama dengan t tabel, maka instrumen itu tidak lazim digunakan. Berkaitan dengan adanya perbedaan pendapat tentang perlu tidaknya digunakan uji t atau uji r dalam uji validitas dan reliabilitas, maka perlu ditegaskan disini, bahwa kedua pendapat di atas adalah benar. Artinya penggunaan uji r dan uji t dalam pengujian validitas dan reliabilitas dalam pengukuran alat ukur lazim digunakan dalam penelitian.

Namun demikian ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh keduanya. Pertama, pengujian validitas cukup menggunakan nilai keofisien korelasi apabila responden yang dilibatkan dalam pengujian validitas adalah populasi. Keputusan valid tidaknya item instrumen, cukup dilakukan dengan cara membandingkan nilai r hitung dengan nilai tabel r. Kedua, pengujian validitas perlu menggunakan uji t apabila responden yang dilibatkan dalam pengujian validitas adalah sampel sebagai bagian dari populasi. Atau dengan kata lain, keputusan valid atau tidaknya item instrumen, tidak bisa dilakukan hanya dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel, akan tetapi harus dengan dilanjutkan dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel.

C. Penutup

Berdasarkan tinjauan teori tentang penting atau tidaknya pengujian statistik r dan statistik t dalam pengujian validitas dan reliabilitas, berikuti ini bisa dikemukakan beberapa hal antara lain, bahwa pengujian validitas/reliabilitas dengan sensus (populasi) tidak diperlukan generalisasi atau penarikan kesimpulan yang bersifat umum, karena seluruh anggota populasi dilibatkan dalam penelitian sehingga kesimpulan yang dibuat berlaku untuk populasi itu sendiri. Sementara dalam pengujian validitas/reliabilitas dengan sampel, generalisasi diperlukan, karena tidak semua anggota populasi dilibatkan sebagai responden sampel, oleh karena itu generalisasi harus dilakukan. Tetapi apabila tidak dilakukan generalisasi maka kesimpulan yang dibuat hanya berlaku untuk anggota sampel yang terlibat langsung sebagai responden, tidak untuk populasi. Dalam metode statistika, kegiatan untuk membuat generalisasi dilakukan dengan menggunakan pengujian statistik tertentu. Atau lazim disebut dengan Uji t.

Pendekatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan pengujian statistik yang sesuai dengan kajian teoritis. Keputusan yang diambil untuk menguji data sampel melalui pengujian statistik merupakan pengujian terhadap karakteristik sampel agar dapat diambil kesimpulan yang bersifat umum sesuai dengan sifat dan karakteristik populasi. Atau dengan kata lain, kesimpulan yang dibuat berdasarkan data sampel bisa dianggap mewakili seluruh keberadaan/karakteristik tentang apa yang terjadi dalam populasi. Karena generalisasi hanya akan dilakukan ketika kesimpulan yang diambil berdasakan sampel.

Daftar pustaka:

  1. Babbie, Earl R., The Pravtice of Social Research, 4th Edition, Belmont, CA, Wadsworth, 1986. 
  2. Kerlinger, F.N., Foundation of Behavioral Research, 2nd Ed., New York, MacMillan, 1971. 
  3. Moh. Nazir, Ph.d. Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta, 2005).
  4. Suharto, Kumpulan Bahan Kuliah Statistika, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, 2007.
 
.

0 komentar: